PENGADILAN AGAMA RANTAU GELAR APEL KESADARAN NASIONAL

Walaupun di bawah cuaca sejuk nan dingin karena kemarin kota Rantau  dan sekitarnya seharian diguyur hujan, namun hal tersebut tidak mematahkan semangat untuk menggelar Apel rutin Kesadaran Nasional yang dilaksanakan pada hari Senin 20 Juni 2016 Masehi bertepatan dengan tanggal 15 Ramadan 1437 Hijriah  pukul 08.00 Wita dengan mengambil tempat di halaman kantor PA Rantau.

 

            Apel Kesadaran nasional kali ini diikuti oleh para pejabat struktural dan fungsional dan seluruh pegawai di lingkungan PA Rantau berlangsung secara khidmat dan lancar. Bertindak sebagai pembina upacara Ketua Pengadilan Agama Rantau Drs. H. Rakhmat Hidayat, HS.,S.H.,M.H., dan Nor Hendra Riyadi selaku Ajudan. Adapun Pembawa Acara Iskandar, SEI, Komandan Upacara Hanafi, Pembaca Teks Pancasila adalah Pembina Upacara, bertugas sebagai Pembaca Pembukaan Undang-undang 1945 Ahmad Fajar, SHI, dan pembaca Panca Prasetia Korpri yaitu Abdul Muluk, Amd.

 

            Dalam amanatnya, Bapak Ketua PA. Rantau menyampaikan pesan pak Dirjen sebagaimana tulisan beliau pada rubrik “Pojok Dirjen” Majalah Peradilan Agama Edisi 7 | Oktober 2015 yang berjudul “Bekerja Optimal, bekerja maksimal., antara lain memuat :

 

Di antara pesan Imam syafi’i terkait dengan manajemen kerja adalah tertuang dalam bait syairnya yang terkenal WALAM ARO FI ‘UYUBIN NASI ‘AYBA. KANAQSHIL QADIRINA ‘ALAT TAMAMI. Artinya: “Saya tidak memandang kekurangan manusia sebagai aib. Aib itu adalah orang yang mampu berbuat optimal, tetapi dia tidak melakukannya”. Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa di dalam pekerjaan, berbuat optimal artinya tidak menunda-nunda pekerjaan. Bisa juga, berarti mengerjakan sesuatu dengan sempurna dan sungguh-sungguh. Ahli manajemen mengatakan, bahwa suatu pekerjaan yang direncanakan dengan matang, berarti separuh pekerjaan itu dianggap sudah selesai. Orang yang bekerja dengan apa adanya, tanpa adanya perencanaan yang matang, terus menunda-nunda pekerjaan tanpa alasan yang benar, itulah yang dimaksud dengan “super aib” oleh Imam Syafi’i.

 

Ada banyak alasan orang tidak bekerja secara optimal. Kekurangan tenaga SDM dalam suatu organisasi kerja. Jumlah hakimnya kurang, sementara perkaranya banyak. Tidak ada panitera pengganti murni, yang ada rangkap jabatan. Kekurangan fasilitas sarana dan prasarana kerja. Komputernya sudah jadul, kurang mendukung pekerjaan, (…sekalipun buat facebookan seringnya lancar-lancar saja, itu katanya kabar burung….).

 

Menyikapi keadaan serba kurangan, bukan dengan mengeluh apalagi berputus asa. Betapa banyak lahir pengusaha sukses dan profesional, justru dari kalangan sederhana dan serba berkekurangan. Betapa banyak keluarga miskin dan berkekurangan tetapi mampu melahirkan orang-orang besar dan profesional dalam pekerjaannya. Bahkan, tidak kurang orang memiliki kekurangan dan keterbatasan fisik, mampu melampaui orang kebanyakan dalam pencapaian ilmu dan keterampilan. Cari saja di internet, contoh semuanya itu tersaji dalam bentuk berita maupun video.

 

Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al Bayhaqi, Rasulullah SAW bersabda: INNALLAHA YUHIBBU IDZA ‘AMILA AHADUKUM ‘AMALA AN YUTQINAHU. Artinya: “Sungguh Allah SWT suka jika seseorang melakukan satu perbuatan, agar berbuat optimal dalam pekerjaannya”. Kekurangan tenaga dan fasilitas tidak boleh menjadi alasan kita untuk malas bekerja. Di lingkungan peradilan agama, bekerja adalah sekaligus berjuang. Para sesepuh dan pendahulu di peradilan agama sudah mewariskan semangat itu. Berjuang menambah ilmu dan meningkatkan kapabilitas sebagai hakim maupun pegawai. Berjuang memberikan rasa keadilan kepada masyarakat yang membutuhkan, dalam keadaan mudah maupun susah.

 

Menyelesaikan beban kerja, didukung jumlah tenaga yang memadai adalah hal biasa. Tetapi, dengan keterbatasan tenaga SDM, kemudian sanggup bekerja secara optimal itu luar biasa. Itulah spirit kerja yang dibutuhkan saat ini. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, dengan didukung sarana yang memamadai adalah hal biasa. Tetapi, dengan fasilitas serba terbatas, kemudian bisa bekerja secara maksimal itu luar biasa. Itulah spirit kerja yang dibutuhkan oleh para juara (the winner).

 

Kalau bisa diselesaikan sekarang, kenapa harus nanti. Kalau bisa dikerjakan hari ini, kenapa harus menunggu besok. Cerita lama zaman jahiliyah, ada pekerjaan kantor kemudian dikerjakan dalam kegiatan dinas di luar kantor, namun ujung-ujungnya diselesaikan di kantor juga. Itu kebiasaan zaman jahiliyah yang harus ditinggalkan. Pekerjaan yang bisa diselesaikan di kantor, harus diselesaikan di kantor. Pekerjaan yang dikerjakan di luar kantor, harus diselesaikan disana, jangan dibawa ke kantor lagi sebelum selesai. Bekerja Optimal dan bekerja maksimal, itulah spirit hijrah di tahun 1437 H. Di akhir amanatnya Bapak Ketua menyampaikan semoga kita aparat PA. Rantau dapat merealisasikan pesan pak Dirjen tersebut yaitu bekerja secara optimal dan bekerja secara  maksimal.

 

Usai pengarahan Ketua Pengadilan Agama Rantau, kemudian ditutup dengan pembacaan doa oleh Ibu Hj. Nurul Fakhriah, S.Ag.

 

Konsep by Hj. ST Zubaidah, S.Ag., S.H., MH (Hakim PA Rantau)

Baca juga

Bagikan Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Pin on Pinterest0Print this pageEmail this to someone
Tags: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

12 − 8 =