MENGHADIRKAN ALLAH DALAM PEKERJAAN SEHARI-HARI

MENGHADIRKAN ALLAH DALAM PEKERJAAN SEHARI-HARI

Oleh : Samsul Muhana, SH

Setiap pagi sebagaimana biasa setelah kawan-kawan datang tepat pukul 08.00 Wita Pak Jamhari, SH yang sering disebut dengan Om Ijam  memulai memimpin pembacaan salah satu surah dalam Al Qur’an yang menjadi amalan dan rutinitas kawan-kawan di ruangan atas. Setelah selesai Om Ijam memimpin do’a maka acara biasanya di lanjutkan dengan diskusi kecil-kecilan untuk mengawali pekerjaan pagi supaya hasil pekerjaan kita hari ini selesai dengan lancar juga mendapat rahmad dan ridho dari Allah SWT.

Muhammad Jazuli SH yang memulai diskusi tersebut dengan melontarkan kalimat “ Bagaimana  cara kita menghadirkan Allah dalam pekerjaan kita sehari-hari“ Tema yang dilontarkan saudara Muhammad Jazuli  tersebut memang bukan merupakan hal yang asing namun kalau kita renungkan kita mengakui bahwa tidak semua orang bisa dan mudah untuk melakukanya. Dari hasil diskusi tersebut dapat penulis paparkan sebagai berikut :

 

Bagaimana sebenarnya cara kita bisa merasakan kehadiran Allah dalam proses kerja misalnya dalam pembuatan berita acara sidang, apakah  proses spiritualitas tersebut bisa kita kerjakan dimuka komputer sambil membuat berita acara sidang. Apakah praktek praktik spiritual tersebut hanya bisa dilakukan ditempat khusus, seperti masjid, musholla atau Majelis taklim dan lain-lain. Sebenarnya jawabanya tidak. Menghadirkan Allah dalam pekerjaan tidak harus dilakukan ditempat khusus seperti Masjid, mushala dan lain-lain, namun bisa dilakukan dimana-mana sebagaimana kita ketahui bahwa “Allah itu dekat lebih dekat dari urat nadi “. Wanahnu aqrabu min hablil wariid. Kalau kita yakin Allah dekat kita bisa merasakan kehadiran Allah dalam bekerja. Kalau orang merasakan kehadiran Allah dalam bekerja orang akan menjalankan kerja sesuai keinginan Allah dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak etis.  Sebenarnya ke arahnya sanalah harus kita tanamkan dalam hati kita apabila kita melakukan suatu pekerjaan jadi apapun yang kita lakukan kita harus berusaha merasakan kehadiran Allah. Para ulama juga mengatakan agar kita selalu mengingat Allah dimanapun baik ketika duduk, berdiri dan dimanapun kita berada.

 

Kadang-kadang yang menjadi Permasalahan adalah pemahaman kita terhadap makna kerja hanya bersifat ekonomi saja jadi kerja hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan kebutuhan dunia semata. Disini Allah tidak dilibatkan dalam proses rutunitas pekerjaan  tersebut. Kalau kita kerja tujuannya hanya ekonomi semata sudah tidak benar menurut tuntunan para ulama. Kita boleh bekerja mencari harta sebanyak-banyaknya sejauh dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas spiritual. Atau dengan bahasa lain bahwa makna kerja dan hasil kerja kita ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Cuma kadang-kadang orang sering lupa kepada yang memberi rezeki  akhirnya  orang hanya terbenam mengejar hasil pekerjaan yaitu yang bersifat duniawi. Mungkin hal ini terkait dengan kesinambungan antara akal dan batin. Jadi selama ini orang yang memaknai kerja itu hanya urusan  akal dan dunia sedangkan bagian zikir itu hanya urusan  batin dan akhirat.

Sebenarnya kalau keduanya bisa kita sambung maka kita akan bisa menghasilan dua keuntungan yang sangat mengembirakan disamping keuntungan prestasi  kerja juga pendekatan diri kita kepada Sang Khaliq. Seperti kita ketahui bahwa hampir tujuh puluh lima persen dari kita meniatkan kerja adalah untuk mencari rejeki demi menghidupai keluarga. Padahal kalau kita kaji makna dari rejeki adalahsegala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan,  berupa harta rumah, kendaraan,  kesehatan, dan lainnya baik berasal dari yang halal maupun haram. Jadi yang dimaksud dengan rejeki disini tidak dibedakan halal dan haram.  Allah akan berikan rejeki  kepada seluruh makhluk-Nya baik orang muslim maupun non muslim. Banyaknya pemberian jenis rezeki yang yang diberikan oleh Allah tidak menunjukkan kemuliaan seseorang di sisi Allah. Begitu pula sedikitnya rezeki dunia yang Allah berikan kepada seseorang tidak menunjukkan kehinaan orang tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat Al Fajr ayat15-16  yang artinya Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” .

Padahal sebenarnya  bahwa rezeki tidaklah sebatas harta dunia. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki kemudahan untuk beramal shalih adalah rezeki, istri yang shalihah adalah rezeki anak-anak juga termasuk rezeki. Kewajiban kita untuk senantiasa bersyukur atas rezeki yang Allah berikan. Bahkan rezeki yang hakiki adalah rezeki yang dapat menegakkan agama kita sehingga mengantarkan kita selamat di akherat. Inilah rezeki yang sesungguhnya. Rezeki yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Jadi konsep pencarian rejeki tersebut yang diemplimentasikan dalam pekerjaan ruti sehari-hari dimana kita diharapkan tidak memisahkan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat saja. Maksudnya bahwa kita harus memaknai kerja itu bukan hanya urusan  akal dan dunia sedangkan bagian zikir itu bukan hanya urusan  batin dan akhirat.   Namun keduanya harus dijalankan secara bersama-sama supaya hasil kerja kita bisa bermanfaat untuk dunia dan akhirat kelak

Sekarang bagaimana agar Allah selalu hadir dalam kita bekerja ? Adapun dzikir dalam artian menghadirkan Allah dalam pekerjaan supaya hati dan jasad kita lebih dekat kepada Sang Khalid kita  bisa dzikir dimanapun sebab Allah tidak jauh dari kita bahkan Allah lebih dekat dari urat nadi. Yunus Emre penyair Sufi Anatolia dari  Turki pernah bilang  “Jika Anda ingin mencari Allah, carilah didalam qalbumu” Jadi dimanapun dan kapanpun baik kita sedang kerja di pasar di kantor Allah ada disitu kita bisa merasakan Allah disana. Tapi itu tergantung pada kita  sebab disini yang paling penting ialah bagaimana kita kita bisa  menjaga kesadaran kita akan kehadiran Allah. Menjaga kesadaran akan kehadiran Allah itulah yang merupakan kunci utama untuk  menghadirkan Allah dalam pekerjaan kita itu harus kita latih dan kita biasakan dalam hidup sehari-hari.  Kebiasaan ini memang perlu dilatih dan dimulai dari pribadi diri kita sendiri. Mungkin hal tersebut diperlukan latihan yang serius dan disiplin sebab kita juga harus merubah paradikma bahwa orang berdzikir itu bukan hanya di masjid kita  ingat kepada Allah bukan hanya ketika sholat saja. Dalam istilah ibadah ada yang dinamakan  sholat daim dimana yang dimaksud sholat daim disini adalah sholat setiap detik sepanjang hidup. Jadi bukanlah sholat hanya ketika sedang sholat tetapi sholat sepanjang hidup. sehingga selama itu hubungan kita dengan Allah tidak pernah putus.

Jadi dengan adanya kebiasaan kita menghadirkan Allah dalam pekerjaan sehari-hari alasan kesibukan dan mencari nafkah tidak memutus hubungan kita dengan Allah. Jadi tidak ada alasan karena kita sibuk kita lupa dengan Allah. Kita harus berusaha semakin kita sibuk semakin kita makin ingat kepada Allah.  Jadi dalam melakukan sesuatu detak qalbu kita mengucapkan Allah Allah sehingga semuanya Allah akhirnya kita ini nggak ada apa-apanya. Ketika Nabi Muhammad melempar musuh bukan beliau yang melempar tapi Allah yang melemparnya. Makanya orang-orang yang berbuat kebaikan melebihi yang wajib Allah akan menjadi pendengarannya, penglihatannya. Ini artinya kita harus menyadari bahwa semuanya Allah, kita ini tidak ada apa-apanya. Nah seandainya itu bisa kita lakukan ketika kita kerja. Ketika kita sedang membuat berita acara sidang Allah lah yang menulis berita acara tersebut. Tapi jangan disalah pahami bahwa  ketika kita melakukan kesalahan Allahlah yang melakukan kesalahan, terkait dengan kegiatan kita sehari-hari bahwa apapun yang kita lakukan, sebenarnya yang melakukan Allah kita tidak ada apa-apanya. Untuk mencapai kesana memang butuh hidayah dan susah yang penting berusaha.  Bahkan karier kerjapun merupakan anugerah dari Allah  kalau Allah nggak memberi walaupun kita berusaha sampai mati, kita nggak akan dapat. Menurut hasil diskusi tersebut bahwa Allah akan memberikan anugerah itu kepada orang yang dianggap siap. Tapi biasanya orang siap itu kan sebelumnya sudah mengondisikan dirinya. Banyak berdoa berbuat baik selalu mendekatkan diri kepada Allah sebab  anugerah nggak mungkin tiba begitu saja.

Itulah hasil diskusi pada hari ini tanggal 2 Desember 2013  dengan dihadiri oleh semua peserta diskusi. Bahwa apabila tulisan tersebut benar maka kebenaranya dari Allah semata namun apabila tulisan tersebut salah maka kita dan kawan-kawan sebagai manusia yang melakukan kesalahan.  semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin amin ya robbal alamin.

Baca juga

Bagikan Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Pin on Pinterest0Print this pageEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

19 − 14 =