Harapan Sekjen Badilag Mahkamah Agung RI kepada PA Pelaihari

Harapan Sekjen Badilag Mahkamah Agung RI kepada PA Pelaihari

 

tuiran

Sekjen Badilag menyampaikan pembinaan kepada Hakim dan Pegawai PA Pelaihari [Foto: Respati].

Pelaihari I pa-pelaihari.go.id
Sebuah anugerah tidak terduga pada Selasa (26/07/2016) Pukul 16.30 WITA, Sekjen Badilag Mahkamah Agung Drs. H. Tukiran, S.H., M.H.  berkunjung ke Pengadilan Agama Pelaihari. Kunjungan Sekjen di Kalsel ini dalam rangka kunjungan kerja ke beberapa pengadilan agama di wilayah hukum PTA Banjarmasin, termasuk PA Pelaihari.
Kedatangan Sekjen ke PA Pelaihari didampingi oleh Panitera PTA Banjarmasin H. Ma’sum Umar, S.H., M.H. dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Rumah Tangga PTA Banjarmasin Salmani, S.Ag. disambut dengan suasana ceria dan penuh kehangatan oleh seluruh pegawai PA Pelaihari. Kesempatan langka itu dimanfaatkan oleh Ketua PA Pelaihari Dra. Hj. Masyhadiah D, M.H. untuk mengadakan pembinaan sekaligus halal bi halal.
 
Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Panitera dan Hakim PA Pelaihari menyambut tamunya dengan penuh rasa hormat [Foto:Respati].
Di awal sambutannya Bapak Sekjen menyampaikan Selamat Hari raya Idul Fitri 1437 Hijriyah kepada hadirin. Selanjutnya Sekjen menyampaikan maksud kunjungannya ke PA Pelaihari yaitu terkait dengan penerapan ISO (International Standar Operasional).
“ISO ini pertama kali dilakukan oleh PA Stabat, yang saat itu dipelopori oleh tokoh dari PA Pelaihari yaitu Pak Tarsi” Ujar Sekjen disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Lebih jauh Sekjen memaparkan, persepsi negatif terhadap pelaksanaan ISO ini adalah terkait masalah pendanaan. Pola pikir yang berkembang adalah ISO harus dengan biaya, padahal alokasi APBN kita tergolong minim. Ini yang harus kita luruskan, bahwa pendapat yang mengharuskan ISO didukung dana itu keliru, pendanaan itu nomor dua, yang terpenting sebenarnya adalah komitmen.
Ada pengadilan agama yang kondisi peralatannya cukup prihatin namun dengan komitmen yang kuat terbukti mampu menjalankan ISO.  Sebaliknya, ada pengadilan agama yang ditinjau dari ketersediaan sarana justru berlebih, namun karena tidak adanya komitmen maka menjadi tidak jalan.
Dengan ISO hakim dan pegawai bekerja dengan sistem yang pasti dan benar-benar menerapkan manajemen PDCA (Plan, Do, Check and Act), tidak ada manajemen yang baru, yang ada adalah perubahan pola pikir, niatan dan kualitas kinerja.
“Standarnya sebenarnya bukan ISO melainkan Reformasi Birokrasi (RB), dan ISO sendiri sejalan dengan maksud RB tersebut. Hal yang pertama difokuskan dalam RB adalah mengenai manajemen perubahan” Tandasnya.
 pa pelahari
Sekjen sedang mengisi buku tamu yang telah tersedia [Foto: Respati]
Tujuan ISO bukan kesempurnaan melainkan perubahan. Jangan merasa terbebani dengan ISO, asalkan komitmen, apa yang menjadi kebijakan pimpinan, laksanakan. Jadi  konetifitas antara proses yang benar, hasil yang baik, dan suasana yang happy tetap terjaga. Komitmen ISO sebenarnya bukan sekadar menerima sertifikasi ISO, melainkan kebersamaan menjalani proses ISO ini dengan segala suka dan dukanya, sehingga dalam ISO ini harus ada keterbukaan dan kekompakan.
Dalam waktu dekat akan diluncurkan Pedoman Sistem Manajamen Mutu. Hatibinwasda, Hawasbid dan Tim Audit internal berkolaborasi dalam menilai proses manajemen itu sendiri. Jadi jangan sampai ada perbedaan paradigma.
Itulah poin-poin penting yang disampaikan oleh Sekjen yang dalam setiap pengarahan dan wejangannya relatif singkat padat namun justru mengandung nilai yang sangat luar biasa manfaatnya. Sekjen berharap PA Pelaihari dengan semangat yang tidak pernah surut mampu menerapkan ISO dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Yudi Hardeos

Baca juga

Bagikan Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Pin on Pinterest0Print this pageEmail this to someone
Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*

three × 3 =